Selasa, 04 September 2012

Untukmu Maba"2012 (Seri 1), Filosopi Mahasiswa: Sebuah Paradigma

Oleh: M. Iqbal Themi

(Tulisan ini Penulis dedikasikan buat adik-adik Mahasiswa Baru 2012 di Seantero Indonesia, Semoga dapat memberi inspirasi dan manfaat)


Selamat datang Putra-Putri Terbaik Bangsa Mahasiswa Baru! Begitulah setidaknya kalimat ucapan selamat yang kita dapatkan saat pertama kali masuk kampus. Kalimat tersebut menghiasi hampir semua papan pengumuman yang ada di kampus. Mulai dari Karyawan, Mahasiswa Senior hingga para Dosen termasuk Guru Besar nampak satu komando satu suara menyampaikan ucapan selamat kepada Mahasiswa Baru. Sebagai tanda sambutan hangat kepada keluarga civitas akademika yang baru.

Sebagai Mahasiswa Baru yang baru saja memenangkan hajat kompetisi akbar bernama Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), tentunya suatu kebanggaan tiada tara kita rasa saat mendapatkan sanjungan semacam itu. Disebut sebagai Putra-Putri Terbaik Bangsa. 

Woww,.. Amazing, Luar Biasa, itulah ekspresi sesaat yang kita rasa setelah mendapatkan ucapan selamat dan sanjungan semacam itu, semakin terbayang dengan jelas dibenak kita, jika sekarang Kita adalah mahasiswa, kita adalah putra-putri terbaik bangsa. Seketika juga rasanya ada lorong waktu yang menembus alam bawah sadar dan menyusuri kilauan cahaya masa depan yang telah menari-nari di depan kita sembari melampaikan tangannya memberi isyarat jika kehadiran kita sangatlah dinanti oleh masa depan itu. Betapa tidak, karena di dada ini rasanya seakan ada bongkahan sebesar gunung yang barusan saja dihancurkan, yang kita sendiri sulit menyebut apa nama bongkahan tersebut, tetapi yang pasti seketika merasa begitu lega, riang, dan gembira, lalu bongkahan tersebut saat itu juga hilang, sejak mendapatkan pengumuman lulus menjadi mahasiswa.

Tentunya, setiap kita memiliki bayangan tersendiri saat di awal menjadi mahasiswa. Tapi, satu hal yang pasti sama jika mahasiswa itu serba luar biasa. Saking luar biasanya mendapat gelar maha di depan siswa. Selain, Tuhan yang memang menyandang gelar maha akan maha segalanya, lalu ada kita yang menyandang gelar mahasiswa.

Kita patut bangga memang, atau merasa sangat bangga sekalipun dengan nama yang kita sandang tersebut adalah hal wajar. Itu rasa manusiawi yang kita punya. Lantas, yang tidak wajar seperti apa? Yang tidak wajar adalah ketika kita menjadi mahasiswa yang hanyut dalam kebanggaan terhadap gelar bergengsi tersebut. Atau yang lebih parah jika kita justru terkena sindrom megalomania. Penyakit merasa besar diri atas kebesaran yang kita punya.


MEMBANGUN PARADIGMA BARU
Ketahuilah, kita ini menjadi mahasiswa, bukan hanya sekadar untuk menempelkan nama di kampus untuk dijadikan bahan cerita pada anak cucu kita kelak. Kalau bapak pernah kuliah di kampus UI nak, kakekmu dulu alumni kampus UGM. Namun, perjalanan kita saat menjadi mahasiswa hampa. Lalu setelah menjadi sarjana kita pun bingung hendak kemana kaki akan melangkah. Kalau sudah begini, tepatkah kalimat putra-putri terbaik bangsa yang ditujukan kepada kita saat dulu di awal masuk menjadi mahasiswa?

Hidup dan menjalankan aktivitas kemahasiswaan juga tidak luput dari pilihan. Termasuk menentukan aktivitas apa yang ingin kita kerjakan di kampus. Semuanya adalah hak asasi bagi setiap mahasiswa. Tapi, pernahkah kita tersadar jika tidak semua anak muda Indonesia seusia dengan kita bisa menjadi mahasiswa. Dari semua anak muda yang seusia dengan kita 18-23 tahun, hanya terdapat 18 % yang bisa menjadi mahasiswa. Jumlahnya pun hanya kisaran 4,5 juta. Sedangkan, Negara yang ingin kita urus ini sangatlah luas daerahnya. Jumlah tersebut masih sangat kurang untuk membuat Indonesia Maju dan sejajar dengan China, India, Jepang dan negara maju lainnya.

Dengan komposisi mahasiswa yang hanya 18 % dari total angkatan usia muda, maka menjadi mahasiswa merupakan kesempatan langka. Walaupun pemerintah mengaku telah begitu banyak memberikan beasiswa yang diberikan agar anak muda Indonesia bisa dengan mudah kuliah, tapi fakta yang ada, masih begitu banyak anak muda Indonesia yang terpaksa hidup di jalanan. Data Departemen Sosial (Liputan 6 SCTV, Januari 2010) mengatakan, sebanyak 4 Juta anak Indonesia terlantar, 160 ribu di antaranya hidup di jalan. Sedangkan data dari Badan Pusat Statistik (2006) memperlihatkan dari total 79,8 Juta anak usia sekolah ( >18 tahun) terdapat 17,6 juta di antaranya masuk kategori anak terlantar. Secara keseluruhan mereka tersebar keberagam bentuk profesi. Ada yang terpaksa yang menjadi pengamen, pedagang asongan, atau terpaksa melakukan pencurian, penjarahan, perampokan karena himpitan ekonomi.

Coba kita tanya pada hati nurani kita, pantaskah mereka yang seusia dengan kita itu berada di tempat-tempat tersebut? Pasti kita semua akan menjawab tidak. Karena memang sebenarnya, tempat yang layak bagi mereka sama seperti kita, yakni kampus. Usia mereka sama seperti kita adalah usia untuk berimajinasi, bernarasi dan beraktulisasi demi meraih kesuksesan masa depan.

Maka, sudah barang pasti sebaik-baiknya pilihan aktivitas kita di kampus adalah pilihan aktivitas yang tidak hanya menghasilkan manfaat buat diri kita sendiri, tetapi juga menghasilkan manfaat buat sesama teman mahasiswa, lingkungan tempat tinggal, keluarga, masyarakat hingga bangsa dan Negara. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk cara kita mensyukuri dan memanfaatkan kesempatan langka menjadi mahasiswa. Selain dengan mengoptimalkan cara lain yakni berusaha mendapatkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya hingga tak terbatas, dan berusaha meraih prestasi yang gemilang. Lalu, dengan ilmu dan prestasi yang telah kita miliki, kita buat semua orang di sekitar kita dapat ikut serta merasakan manfaat dari ilmu dan prestasi yang telah kita punya tersebut.

Mari juga kita pahami bersama, makna maha di depan kata siswa itu identik dengan paling tinggi, paling besar, tanpa batas, tak ada akhir, tidak pernah habis. Sedangkan, siswa mencerminkan diri seorang penuntut ilmu. Jelaslah, mahasiswa beda dengan siswa. Tambahan kata maha yang telah didapat mengandung konsekuensi yang menuntut penyandangnya harus mengalami tambahan cara berpikir, bersikap dan bertindak. Yang jauh lebih tinggi dan lebih besar daripada saat masih menjadi siswa. Tentu yang dimaksud tersebut tidak lain adalah ruang lingkup yang mesti dipikirkan oleh seorang yang telah menjadi mahasiswa tidak lagi sebatas hanya tentang dirinya semata, tetapi juga harus mencakup tentang banyak bahkan semua orang. Jika sudah menjadi mahasiswa namun ruang lingkup yang kita pikirkan masih tentang diri sendiri, lebih baik kita kembali saja menjadi seorang siswa. Hapus kata maha yang kita sandang itu.

.::Penulis adalah Mahasiswa FISIP Unsri 2008. Sejak awal kuliah telah aktif terlibat dalam beberapa organisasi kemahasiswaan mulai dari Waki Fisip Unsri, IRMA Gg Lampung, KEMALA Unsri, KAMMI Komisariat Al-Aqsho Unsri, Bem Unsri. Aktif juga sebagai Pembicara, Trainer dan Narasumber dalam berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan. Saat ini Penulis menerjunkan diri sebagai Young Businessmen dan Staff Humas Pengurus Daerah KAMMI Sumatera Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum meng-Klik "Publikasikan" Komentar anda, silakan terlebih dahulu pilih nama ID anda di menu pilihan "Berikan Komentar sebagai"....