Rabu, 05 September 2012

Untukmu Maba'12 (Seri 3), Mulai dari Kompetisi hingga Uang Rakyat


 Oleh: M. Iqbal Themi

(Tulisan ini Penulis dedikasikan buat adik-adik Mahasiswa Baru 2012 di Seantero Indonesia, Semoga dapat memberi inspirasi dan manfaat) 

Sejak dari awal tentulah kita sudah terlebih dahulu tahu jika ingin menjadi mahasiswa itu tidak mudah. Mesti ikutan ajang adu kompetisi terlebih dahulu. Dan persaingannya pun terbilang sulit dan ketat. Betapa tidak, Karena jumlah kuota yang disediakan oleh setiap kampus sangat tidak sebanding dengan jumlah peminat yang membeludak ingin merebutnya. Sebagai contoh untuk masuk jurusan favorit di Unsri misalnya (contoh : Ekonomi) perbandingan tingkat kompetisinya 1:25. Artinya, jika kita merasa bangga karena bisa masuk jurusan ekonomi Unsri, ada 24 anak muda Indonesia yang sebaya dengan kita, punya ambisi dan cita-cita sama seperti kita harus menangis karena gagal masuk Ekonomi Unsri.

Lalu, jika kita menjadi mahasiswanya di kampus negeri, ketahuilah bahwa biaya perkuliahan kita di kampus negeri tersebut sebagian besar disubsidi oleh rakyat Indonesia. Apalagi jika ditambah kita mendapatkan beasiswa saat kuliah. Maka, semua uang subsidi kuliah dan beasiswa yang kita peroleh tersebut jangan sangka berasal dari pemerintah, tapi semuanya berasal dari rakyat Indonesia yang kebanyakan masih miskin-miskin, melalui pajak yang mereka bayarkan kepada Negara. Sedangkan, pemerintah kita tidak lebih sebagai pengelola uang rakyat yang diberi upah oleh rakyat.

Sekarang, tahukah kita berapa jumlah rakyat Indonesia yang masuk dalam kategori miskin? Menurut pengakuan BPS tahun 2012, ada 30,03 juta rakyat miskin di Indonesia. Untuk kasus ini jangan juga kita berprasangka baik dulu kepada pemerintah kita jika 30,03 juta rakyat miskin Indonesia ini misalnya dibebaskan dari pembayaran pajak. Karena sudah menjadi aturan di republik ini membayar pajak menjadi kewajiban setiap warga Negara Indonesia tanpa memandang apakah ia miskin atau kaya. Semuanya mesti bayar termasuk rakyat miskin tadi.

Nah, sebagian uang yang berasal dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat Indonesia kepada Negara termasuk di dalamnya uang pajak dari rakyat miskin berjumlah 30,03 juta tadi, itulah yang digunakan untuk memberi subsidi biaya kuliah dan beasiswa kita. Maka, asumsinya semua uang subsidi kuliah dan beasiswa yang kita dapat merupakan hutang kita kepada rakyat Indonesia. Asumsi hutang yang dimaksud disebabkan oleh keharusan yang menjadi amanat konstitusi dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hakikat mencerdaskan kehidupan bangsa itu memang mahal, butuh biaya yang tidak sedikit. Dan di negara kita rakyatlah yang diberikan beban untuk menanggun biaya mencerdasakan kehidupan bangsa tersebut.

So, karena kita kuliah menggunakan uang rakyat Indonesia, wajib bagi kita untuk melakukan balas budi (bayar Hutang) atas pengorbanan rakyat Indonesia yang telah memberikan uangnya, untuk kita nikmati dalam mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Caranya?

Sebelum berpikir bagaimana caranya, sejenak ada sebuah cerita inspiratif yang dapat menjadi bahan renungan bagi siapa saja yang mengaku mahasiswa. Cerita ini diawali dari seorang mahasiswa yang terpaksa mendorong sepeda motornya karena ban motornya bocor. Dia pun pergi ke tukang tambal ban untuk menambal ban sepeda motornya tersebut, namun saat akan membayar ternyata dia tidak membawa uang “maaf pak … saya lupa membawa uang, sebentar saya pulang ke kos dulu nanti saya kembali lagi kesini”. Begitulah kata si mahasiswa. Selanjutnya, tahukah kita apa jawaban si tukang tambal ban setelah mendengar si mahasiswa berkata demikian? Si tukang tambal ban hanya berkata “tidak usah nak, tidak usah kamu ganti uang tambal ini, tapi pesan bapak hanya satu, bapak titip negeri ini padamu. Bapak tidak punya kesempatan seperti kamu nak.”

Ehmm,..  Sekarang apa yang bisa kita dapatkan dari cerita di atas? Sebagai mahasiswa adakah hati nurani kita terketuk saat mengetahui jawaban bapak tukang tambal ban tersebut? Mari sejenak kita bayangkan sendiri seperti apalah kira-kira ekspresi kita andaikan kejadian itu kita yang mengalaminya sendiri, mendengar langsung sang bapak tukang tambal ban tersebut berbicara spontanitas dengan perkataan yang sarat makna, di hadapan kita seorang mahasiswa, yang notabenenya dikenal sebagai kaum intelektual.

Bapak tukang tambal tersebut, bisa jadi hanya satu dari jutaan rakyat Indonesia yang punya pesan dan harapan yang sama kepada mahasiswa. Bapak tukang tambal itu bisa jadi juga yang paling beruntung karena punya kesempatan untuk menyampaikan pesannya secara langsung kepada seorang mahasiswa yang secara sadar diyakininya jika kelak dari kalangan inilah (baca: mahasiswa) para pemimpin bangsa di masa depan akan lahir. Nampaknya, di alam bawah sadar tukang tambal ban tersebut terdapat bisikan, jika ia ingin sekali dapat melihat dan menikmati bangsanya menjadi maju walau mungkin saat itu datang usianya tak lagi muda. Tapi setidaknya masih terdapat anak cucunya yang kelak dapat merasakannya. Itulah sebab tak ada keraguan dalam dirinya untuk berpesan menitipkan bangsa yang ia cintai kepada seorang mahasiswa.

Nah, sampai di sini tentunya kita sudah mendapatkan bayangan, bagaimana caranya melakukan balas budi atas pengorbanan rakyat Indonesia kepada kita. Untuk melakukannya bukan berarti mesti menunggu kita menyandang gelar sarjana terlebih dahulu, karena itu kelamaan dan tidak memberikan jaminan jika setelah menjadi sarjana kita bisa benar-benar mendidikasi diri berkontribusi terhadap masyarakat. Tetapi kita bisa melakukannya sejak kita masih menjadi mahasiswa, saat ini juga. Itulah sebab utamanya mahasiswa diberi julukan Creative Minority, Direct of Change, Iron Stock, dan Social Control.

Semua julukan itu dimaksudkan bukan untuk gagah-gagahan, atau besar diri terbuai oleh pujian yang didapat. Karena realitanya mahasiswa itu tidak juga segagah julukan atau pujian yang diberikan. Betapa tidak, jika membaca buku enggak mau, alergi untuk diskusi atau kajian, antipati sama demo, acuh  terhadap kegiatan kemahasiswaan, tidak peduli sama masyarakat, atau ada yang lebih parah kuliah dibiarkan berantakan.
Sungguh, sebenarnya kita akan menjadi orang yang tidak beretika karena tak pandai berterima kasih kepada rakyat Indonesia, jika tujuan kita kuliah semata untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Sibuk dengan tugas kuliah demi IPK yang Cumloude, mengejar target cepat lulus, lalu bisa kerja di perusahaan ternama. Tetapi, ada kawan yang rumahnya kebakaran, ada bencana alam menimpa salah satu daerah di Indonesia, ada mahasiswa yang hendak di Drop Out  karena tak bisa membayar SPP, ada juga rakyat yang menjerit kesakitan karena pemerintahan menaikan harga minyak, sama sekali tidak kita hiraukan. Bukan karena kita tidak tahu, melainkan pura-pura tidak tahu, alasannya sibuk tugas kuliah dan lain-lain. Kalaupun ikut serta menyumbang dana atau sejenak membantu itu bukan karena panggilan jiwa dalam diri tetapi karena ajakan teman yang kesannya memaksa, jadi ikut sertanya dengan berat hati tanpa ada ketulusan sedikit pun.

Iya, seperti itulah gambarannya jika tujuan kita kuliah atau menjadi mahasiswa hanya sekadar mencari ilmu. Kita memang bisa menjadi sosok yang cerdas karena rajin belajar, tapi apa gunanya jika kita miskin simpati dan empati terhadap sesama. Cukup sudah, negeri ini memiliki banyak orang pintar dan juga cerdas tetapi korupsi.

Bedahalnya jika yang menjadi tujuan kita menjadi mahasiswa di kampus untuk melakukan pengembangan diri, kita tidak hanya akan menjadi pribadi yang cerdas secara akal (intelektual) karena menguasai ilmu pengetahuan, tetapi kita juga bisa menjadi cerdas secara hati dan kejiwaan (emosional), menjadi pandai berempati terhadap sesama, selalu saja ada panggilan jiwa yang kuat untuk membantu dan memberikan kontribusi terhadap masyarakat. Pembedanya adalah di sini telah ada karakter diri yang terbentuk dengan kokoh dan matang. Itulah hakikat sejati menjadi seorang mahasiswa. [] 

.::Penulis adalah Mahasiswa FISIP Unsri 2008. Sejak awal kuliah telah aktif terlibat dalam beberapa organisasi kemahasiswaan mulai dari Waki Fisip Unsri, IRMA Gg Lampung, KEMALA Unsri, KAMMI Komisariat Al-Aqsho Unsri, Bem Unsri. Aktif juga sebagai Pembicara, Trainer dan Narasumber dalam berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan. Saat ini Penulis menerjunkan diri sebagai Young Businessmen dan Staff Humas Pengurus Daerah KAMMI Sumatera Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum meng-Klik "Publikasikan" Komentar anda, silakan terlebih dahulu pilih nama ID anda di menu pilihan "Berikan Komentar sebagai"....