Kamis, 27 September 2012

Surat untuk Sahabat jadi Sarjana


Lagi, hari ini ada jadwal wisuda di kampus kita. dan kini giliranmu untuk turut serta ambil bagian memenuhi ruangan itu. Ruangan dimana engkau di kukuhkan sebagai sarjana bersama teman-teman kita yang lain. Ehm,.. Selamat dan Sukses menjadi sarjana kawan.

Engkau bahagia pastinya hari ini kawan, lihatlah senyum bahagiamu dari cermin itu seakan tak kenal lelah kau pancari pada setiap sahabat dan kerabat yang datang menghampirimu untuk sekedar memberi ucapan selamat padamu. 

Engkau patut bahagia hari ini memang kawan, ini adalah hari milikmu. Hari dimana engkau mengenakan baju kebesaranmu, hari dimana engkau dinobatkan bak raja dan ratu sehari. Dan tentunya engkau tahu hari bahagia seperti ini adalah hari yang dinanti oleh semua mahasiswa tak terkecuali bagi ku. He e 

Maka sekali lagi engkau sangat pantas untuk bahagia hari ini kawan, jangan engkau lewatkan hari bahagiamu ini tanpa engkau lukiskan cerita yang dapat mengharu birukan dadamu saat setiap kali engkau mengingatnya kelak.

Tapi ditengah kebahagianmu ada kegusaran yang ku rasa kawan. Kegusaran ini klasik memang. Tapi ia telah banyak memakan korban. Memangsa teman-teman kita yang telah lebih dahulu dinobatkan sebagai sarjana. Bukan maksud ku tak percaya dengan semua kemampuan mu. Tetapi kegusaran ini dasarnya ada dari diriku sendiri.

Aku hanya tak ingin kita menjadi korban selanjutnya apalagi jika cita-cita yang kita perjuangkan itu belum sampai pada tujuannya. Ah,.. sampai disini tentunya engkau telah bisa menebak apa maksud ku. Iya,.. engkau benar kawan. Ini tentang cita-cita perjuangan yang telah kita mulai meneriakinya sejak engkau masih menjadi mahasiswa, saat kita masih bersama di kampus. Lewat bahan bacaan kita, diskusi, rapat rutin, kegiatan amal jalanan dan sebagainya. semua kita lakukan dengan mematri begitu kuatnya semangat, teguhnya komitmen terhadap semua nilai-nilai perjuangan yang kerap kita sebut sebagai idealisme.

Iya,.. walau ini semua bermula dari cerita bukan kenyataan yang pernah ku alami (maklum aku masih mahasiswa,.. he e) tapi cerita ini saja sudah sangat mengerikan bagiku. Mendengar mereka yang dahulu sama seperti kita berlebel aktivis dakwah kampus, begitu berapi-api semangatnya, begitu teguh komitmen terhadap idealismenya, begitu kuat militansinya, banyak sudah pos strategis di organisasi yang diembannya sebagai bukti begitu dalam pengalaman yang dipunya. Tak berlebihan jika teman-teman dizamannya kerap kali menjuluki mereka bukan sembarang aktivis dakwah kampus.

Tapi saat telah menjadi sarjana satu per satu bekerja di tempat yang (maaf) ada unsur ribanya, nilai-nilai perjuangan sebagai aktivis mahasiswa yang begitu kuat membara di dada perlahan pun mulai padam, atau ada yang lebih histeris lagi gaya berpakaian yang dahulu begitu dijaga kini telah dibiarkan mengalami evolusi atau sedikit modifikasi agar nampak lebih menimalis. Pada hal dahulu ia sangat menentangnya.

Tahukah kau alasannya apa kawan? Semua terjadi karena tuntutan pekerjaan, mulai dari agar mudah mendapatkan pekerjaan hingga  agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan supaya tak dinilai eksklusif oleh teman dan atasan tempat bekerja. Tak ada lagi nilai-nilai untuk membentuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang islami menjadi usungan dalam setiap aktivitasnya seperti yang pernah ia jalani dalam setiap aktivitasnya saat masih menjadi mahasiswa dahulu. Nampaknya, usai menjadi mahasiswa maka usai pula perjuangannya menjadi aktivis mahasiswa. Itulah sebab tak sedikit diantara mereka kerap bangga menyebut diri sebagai mantan aktivis mahasiswa.

Ah,.. sebenarnya aku saja belum tentu dapat lebih baik dari mereka yang tak kusenangi ini kawan. Aku sangat sadar tentang itu. tetapi harapanku lewat tulisan yang ku buat untuk mu ini dapat menguatkan hati, pikiran dan tindakan ku untuk tidak termakan menjadi korban semacam itu. Perlu juga ku sampaikan pada mu kawan tak ada kata mantan untuk aktivis. Aktivis tak ubahnya seperti guru tak mengenal batasan waktu dalam berjuang menebarkan kebaikan pada sesama. Semoga saja engkau tak masuk dalam kelompok yang menurut ku latah menyebut istilah mantan pada aktivis.

Waktu kita empat, lima, enam atau mungkin ada yang tujuh tahun adalah waktu yang kurang untuk kita berjuang mewujudkan mimpi kita sebagaimana disiratkan dalam visi dakwah kampus membentuk “peradaban masyarakat madani”, Jati diri sebagai seorang Muslim Negarawan pun belum seutuhnya terbentuk pada kita dalam kurun waktu demikian. ini artinya kita masih harus terus berjuang, terus menjadi aktivis walau telah menjadi sarjana.

Dakwah kampus telah sukses menghantarkanmu menjadi alumninya. Tentunya ia tak ingin engkau mencampakkannya seketika begitu saja karena alasan mu yang tak lagi ada di kampus. Yang diinginkannya engkau tetap menjadi bagian darinya dalam berjuang memciptakan kehidupan madani tadi walau engkau lakukan itu ditempatmu yang baru yakni tempat dimana engkau bekerja sehari-harinya. Singkatnya, ia mengharapkan mu untuk terus melanjutkan perjuangan yang telah kau awali dikampus sebelumnya. Maka jelaslah tak ada kata mantan bagimu sebagai aktivis itu kawan.

Tetapi aku tetap yakin seyakin-yakinnya engkau tak akan menjadi seperti yang ku risaukan. Karena pastilah engkau telah begitu memahami setiap pemaknaan pada kata yang menjadi filosopi perjuangan para muslim negarawan. Maka aku pun yakin engkau tak akan berhenti berjuang, tak pernah akan menanggalkan gelar aktivismu, apalagi menghanyutkan jubah kebesaranmu di lautan. Iya, aku yakin itu kawan. Congratulations for you all. dan Doakan saja aku sekedar menyusulmu menjadi sarjana :)

See you at the TOP
-MIT-

Ket: Untuk semua sahabat ADK yang hari ini, telah atau pun akan menjadi Sarjana.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum meng-Klik "Publikasikan" Komentar anda, silakan terlebih dahulu pilih nama ID anda di menu pilihan "Berikan Komentar sebagai"....