Jumat, 07 September 2012

Aktivis, Kok Letoi Merekrut?


 Oleh: M. Iqbal Themi

(Tulisan ini Penulis dedikasikan buat para Aktivis Mahasiswa di seantero Indonesia yang tengah aktif berjuang melakukan regenerasi organisasinya, Semoga dapat memberi inspirasi)

Berakhir sudah masa orientasi pengenalan pendidikan kampus bagi mahasiswa baru 2012. Kegiatan yang lebih familiar dengan sebutan OSPEK ini telah jadi hajatan yang sakral untuk dilaksanakan oleh setiap kampus setiap kali usai menerima mahasiswa baru. Mulai dari jajaran rektorat, dekatan, jurusan hingga para senior mahasiswa semua terlihat tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian dalam setiap kali pelaksanaan OSPEK di setiap tahunnya.

Terlebih bagi mahasiswa berlebel aktivis mahasiswa adanya OSPEK seakan menjadi pil tambah darah untuk menggemukan organisasi dimana tempat aktivis bernaung. Betapa tidak, karena kenyataannya memang begitu. Kedatangan Mahasiswa Baru (MABA) erat kaitannya dengan keberlangsungan suatu organisasi mahasiswa.

Bagi organisasi mahasiswa yang tak mampu merekrut MABA sesuai kebutuhannya maka taruhannya sangatlah fatal. Bisa berujung pada matinya organisasi tersebut. Dan buktinya sudah banyak. Setidaknya untuk di kampus Unsri saat ini sangatlah gampang untuk sekedar mencari Organisasi Mahasiswa yang hidup segan mati enggan. Mulai dari Ormawa tingkat Universitas hingga program studi sekalipun. Inilah fenomena Ormawa kekinian.

Akhir-akhir ini memang muncul beragam masalah yang menjadi penyebab terhentinya eksistensi Ormawa yang ada. Masalah ini hampir terjadi di banyak kampus di Indonesia. Padahal kalau ditanya, semua aktivis mahasiswa pasti akan menjawab paham, artian penting regenerasi. Mulai dari rekrutmen, pembinaan, penjagaan hingga pengkaryaan. Namun, faktanya masih saja banyak Ormawa yang memble dalam hal menjaga eksistensinya.

Bagaimana mau bisa berbicara cara membina atau mendidik hasil rekrutan yang efektif, jika saat merekrut tidak ada Maba yang berminat gabung? Atau paling banter yang bergabung masih bisa dihitung dengan kedua jari tangan. Alih-alih menyiapkan generasi tangguh yang hendak menggantikan posisi strategis yang bentar lagi tinggalkan. Yang ada semangat saja telah patah arang ditengah jalan karena melihat hasil rekrutan yang segelintir orang. Ujung-ujungnya jadilah kita senior yang galau tak karuan.

Seperti itulah gejala awal matinya sebuah organisasi kemahasiswaan. Ibarat penyakit gejala “letoi” ini akan mematikan jika tak segera dilakukan tindakan medis untuk menolong keselamatannya. Perlu diketahui penyakit semacam ini tidaklah mempan jika obat yang diberikan hanya pil vitamin. Pengobatan ektrem seperti melakukan amputasi, pada setiap organ tubuh aktivis yang terkena penyakit “letoi” merekrut, jika memang dipandang perlu, maka wajib hukumnya untuk dilakukan.

Tentang penyakit “letoi” yang menimpa para aktivis ini, bagi saya disebabkan oleh beberapa penyakit juga. Pertama, Penyakit Malas. Penyakit Malas pun terbagi lagi dalam dua jenis yakni malas tidak mau bergerak sama sekali dan malas karena tak mau berkreativitas. Malas yang pertama tidak mau bergerak sama sekali inilah aktivis mahasiswa yang menjadi sampah organisasi saja. Ia ikut organisasi tapi sama sekali tak mau berkontribusi di dalamnya. Setiap kali diajak ikut kegiatan selalu saja ada alasan tak mau terlibat. Kalau pun terlibat biasanya jika ada keuntungan pribadi yang bisa di dapat. Seperti dapat uang saku, sertifikat dan sebagainya.

Lalu malas yang kedua karena faktor tak mau berkreativitas. Sudah tahu zaman telah berubah. Orang yang mengurusi organisasinya saja sudah berbeda 100 % tetapi masih saja senang dengan konsepan lama yang diwarisakan turun temurun. Aktivis beginian isi otaknya kadang kala dapat diukur dengan mudah. Iya, paling banter arsip dan hanya arsip yang jadi andalan. Soal rekrutmen misalnya, sudah tahu cara lama dengan mengandalkan pamflet, spanduk dan membuka posko tak lagi terlalu efektif menghasilkan rekrutan yang banyak sesuai kebutuhan, masih saja diteruskan tanpa inovasi sedikit pun. Seolah rasanya durhaka sekali jika tidak menyamai cara para sesepuh yang telah mewariskan konsepan itu. Entahlan yang beginian teorinya dapat dari mana. Saya juga gak tahu.

Padahal, kita adalah pemegang penuh kepengurusan dan zaman yang ada. Suka suka kita seharusnya mau ngapain dikepengurusan kita, selama tetap mengarah pada kebaikan yang lebih baik tak perlu ragu untuk menjalankan. Toh, jika pun ada kesalahan ditengah jalan barulah minta saran para sesepuh yang ada untuk memberikan masukan. Namanya juga sesepuh tugasnya pemberi masukan dan saran. Tidak lebih.

Bagi aktivis yang sudah sepuh sudah seharusnya meninggalkan gelanggang, biarkan saja anak muda kita yang berkarya. Tak perlulah kita saklak dalam merekomendasikan masukan dan saran, yang semuanya wajib dilaksanakan. Toh, kita juga bukan Tuhan yang bisa menjamin kebenaran setiap yang kita katakan. Dan bukankah kita juga pernah berada dalam kondisi yang sama seperti mereka. Seharusnya kita bisa pengertian.

Kedua, Aktivis tak beraroma. Ini saya andaikan pada aktivis yang tak memiliki rasa yang jelas. Asin, asam, manis atau pedas nya tidak terasa dengan jelas. Aktivis beginian memang banyak yang terbilang rajin dan aktif di kepengurusan. Namun, itu semua tidak lebih karena tuntutan amanah yang mesti dijalankan. Semua berjalan lancar tapi formalitas yang kering dari ruh gerakan yang mestinya terbangun.

Tak beraroma ini berkaitan juga dengan duah hal, dimulai dari rasa cinta aktivis terhadap organisasinya. Serta pemahaman individu aktivis pada sistem keorganisasi yang ada. Bagaimana mau menumbuhkan rasa semangat dan impian yang besar membangun organisasi kalau kecintaan pada organisasi saja sangatlah tipis jika tak mau dikatakan tidak ada.

Lalu juga, bagaimana mau menyebarkan ide/gagasan atau pemikiran yang berkaitan dengan organisasi, jika kita sendiri tidak paham seluk beluk organisasi kita itu apa?. Mulai dari sejarah, visi, misi, arah gerak, dan sebagainya, semuanya kita tidak ada yang tahu. Setatus organisasi yang ada tak lebih hanya embelen yang melekat semata. Sementara hal apa yang kita pahami bisa dibilang kosong. Bagaimana hal beginian tidak terjadi kalau untuk membaca buku/diskusi saja kita malas melakukan.

Maka tak berlebihan saya berani mengatakan penyakit letoi merekrut aktivis kekinian ini disebabkan karena komplikasi penyakit. Dan hal semacam inilah yang nantinya akan menggerogoti organ organisasi kita menjadi lemas tak berdaya. Satu diantaranya ialah, penyakit aktivis muntaber alias mundur tanpa berita. Sungguh, tidak bisa dipungkuri gejala aktivis muntaber disebabkan juga karena empat faktor ini tak adanya rasa cinta pada organisasi, kosong pemahaman, malas bergerak dan enggan berkreativitas.

Solusi dari saya guna enyehatkan kembali penyakit letoi semacam ini, maka lakukan amputasi adalah satu satunya jalan. Pertama, bangun rasa cintamu terhadap organisasi yang kamu ikuti, lalu berkomitmen dan bertekadlah di dalamnya. Kedua, gali ilmu sedalam-dalamnya, tingkatan kapasitas keorganisasian hingga pantas, buat diri kita paham tentang organisasi yang kita jalankan sekrang. Rajin membaca buku dan diskusi alangkah sangat baiknya.

Ketiga, bangun kreativitas, asah terus bakat imajinasi yang kau miliki sampai dapat menghadirkan  ide baru dan segar yang dapat dijadikan konsepan gerakan organisasi kita. ada satu cara yang bisa kita lakukan untuk membangun kreativitas dan imajinasi dalam membuat konsepan, yakni: berlatihlah terus bagaimana caranya dapat membuat konsepan suatu program. Lalu visualisasikan (lihat) dengan jelas bahwa konsepan yang telah kamu buat adalah konsepan yang sempurna. Pola semacam ini dilakukan semata untuk menghadirkan sikap optimisme, percaya diri dan jiwa pemberani untuk menawarkan konsepan tersebut forum pengambil kebijakan strategis keorganisasian (rapat dan sebagainya)

Ketiga bentuk solusi ini sederhana memang, tapi melalaikan ketiganya, dapat membuat ormawa berada pada kegalauan yang berujung pada kematian. Mulai dari galau karena minimnya kader yang ada hingga tak kunjung datangnya “kemenangan” yang diharapkan. Akhirnya dari dulu hingga sekarang tema besar kita masih saja sama “Menyongsong Kemenangan,……” itu saja. Iya karena kemenangan itu disongsong lewat keletoian para aktivisnya

 
.::Penulis adalah Mahasiswa FISIP Unsri 2008. Sejak awal kuliah telah aktif terlibat dalam beberapa organisasi kemahasiswaan mulai dari Waki Fisip Unsri, IRMA Gg Lampung, KEMALA Unsri, KAMMI Komisariat Al-Aqsho Unsri, Bem Unsri. Aktif juga sebagai Pembicara, Trainer dan Narasumber dalam berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan. Saat ini Penulis menerjunkan diri sebagai Young Businessmen dan Staff Humas Pengurus Daerah KAMMI Sumatera Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum meng-Klik "Publikasikan" Komentar anda, silakan terlebih dahulu pilih nama ID anda di menu pilihan "Berikan Komentar sebagai"....