Kamis, 14 Juni 2012

Keharusan menjadi Aktivis: Mewujudkan Obsesi Kepemimpinan

Oleh. Iqbal Themi

(Tulisan ini merupakan bagian yang terdapat dalam Naskah calon Buku Ku ”Sekolah Negarawan” yang sedang dalam tahapan akhir penulisan)

Saat ini kita dihadapkan pada potret dimana temen-temen sebaya kita (pemuda) tenggelam pada kehidupan yang jauh dari nilai-nilai ketimuran yang menjujung tinggi etika/moral dan budaya. Tenggelam pada pekatnya kehidupan sek bebas, pemakai narkoba, terlibat tindakan kriminal dan sejenis lainnya. Sebagaian besar dari anak-anak muda sebaya dengan kita kini, telah terlahir menjadi para pengagum kehidupan hedonis (hura-hura), Akibatnya kehidupan yang dijalankan pun kian material.

Andaikan kondisi pemuda seperti ini terus saja dibiarkan maka tak ubahnya kita tengah melestarikan atau mempersiapkan calon-calon pemimpin perusak bangsa. Harapan besar rakyat indonesia agar semua masalah besar bangsa yang terjadi hari ini dapat terselesaikan, hanya akan menjadi mimpi-mimpi kosong di siang bolong yang tak pernah menuai kenyataan. Bisa juga kita bayangkan seperti apa wajah bangsa ini sepuluh atau lima belas tahun yang akan datang jika para pemuda seperti ini yang justru mengisi pos-pos strategis kepemimpinan bangsa kita. Maka, kehancuran indonesia bukanlah sekedar hayalan belaka.

Lantas pertanyaannya, Siapa yang paling bertanggung jawab atas semua masalah yang menimpa kehidupan sebagian besar pemuda indonesia hari ini? Tentu saja setiap yang berstatus sebagai warga negara indonesia memiliki tanggung jawab untuk ikut terlibat mencarikan solusinya tak terkecuali mahasiswa.

Mahasiswa yang bernotabene sebagai pemuda terdidik sudah semestinya prihatin akan kondisi ini. Selain itu, sudah saatnya juga mahasiswa menggaungkan tekad merebut masa depan indonesia secara bersama (kolektif) tanpa terjebak dalam perbedaan almamater, suku, bahasa, disiplin keilmuan dan sebagainya.

Secara fitrah sebagai manusia, mahasiswa memiliki potensi akal (pemikiran/pengetahuan), dan potensi kehendak (tindakan/gerakan). Atas nama akal dan kehendak inilah mahasiswa berkewajiban merebut masa depan indonesia. Yakni dengan mewujudkan obsesi kepemimpinannya. Iya, Obsesi Kepemimpinan. Karena dengan demikianlah para mahasiswa akan terlahir sebagai pemimpin-pemimpin besar bangsa ini kelak. Lalu dengan wewenang kepemimpinan yang ia genggem mahasiswa bisa tampil memperbaiki kondisi bangsanya kini.

Subir Chowdhuri dalam bukunya, Organisasi Abad 21: Suatu Hari Semua Organisasi akan Melalui Jalan ini (2005) sebagaimana dikutip oleh Rijalum Imam (2010, hlm.31) menyatakan bahwa untuk menjalani masa kini dan masa depan, organisasi harus menekan pada dua hal: bakat dan lingkungan. Suatu organisasi harus mempekerjakan dan mempertahankan karyawan yang terbaik, tercerdas dan sangat beragam dalam rangka melaksanakan inovasi. Tujuannya adalah untuk menciptakan tenaga kerja berbakat yang bersatu.

Lebih jauh Chowdhuri mengatakan, dalam rangka memenangkan organisasi, strategi kemenangannya adalah dengan meningkatkan bakat (talent). Tak peduli apakah sedang memimpin atau ketinggalan, dalam perlombaan jarak jauh, organisasi tercepatlah yang menang.

Apa yang disampaikan Chowdhuri tersebut memberikan isyarat bahwa kelak kenyataan yang akan terjadi ialah orang-orang yang memiliki kualitas dirilah yang akan bertahan dan mampu bersaing menjalani kehidupan. Salah satu bentuk dari kualitas diri tersebut ialah adanya obsesi kepemimpinan. Sampai disini saya memberikan penegasan betapa pentingnya bagi kita sebagai mahasiswa mewujudkan obsesi kepemimpinannya.

Mewujudkan Obsesi kepemimpinan erat kaitannya dengat dorongan dari dalam diri seseorang yang dipadukan dengan tekad kuat saat merealisasikannya. Apa yang termaksu dengan ”dorongan” dari dalam diri tersebut ialah berupa bakat atau potensi serta semangat. Sedangkan tekad ialah komitmen dan konsistensi.

Untuk mewujudkan obsesi kepemimpinan tersebut mari sejenak kita belajar dari Nabi Sulaiman bagaimana ia mewujudkan obsesi kepemimpinannya. Dengan bakat keilmuan yang diturunkan Allah SWT, Nabi Sulaiman berhasil menjadi pemimpin (baca: Raja) besar dengan kekuasaan global di masanya.

Pencapaian gemilang yang didapat Nabi Sulaiman ini tentunya tidak didapat dengan mudah bak membalikan kedua telapak tangan. Namun, ada proses panjang yang telah dilalui oleh Nabi Sulaiman sebelumnya, yakni: Semangat Proaktif Nabi Sulaiman dalam meningkatkan kapasitas dirinya.

Proaktif ini merupakan bentuk tekad kuat yang tertanam dalam diri Nabi Sulaiman. Maka inilah cara Nabi Sulaiman mewujudkan obsesi kepemimpinannya sebagaimana Al-Quran pun merekam dalam surah An-Naml: Dan Sulaiman telah mewarisi Daud,..” (QS. An-Naml: 16).

Kembali kepada pokok persoalan, seperti yang telah disampaikan sebelumnya mahasiswa secara fitrah memiliki potensi akal (pemikiran/pengetahuan), dan potensi kehendak (tindakan/gerakan). Maka sejatinya ini adalah bakat yang telah dimiliki oleh para mahasiswa. Sedangkan ”Tekad”, ia adalah tantangan yang harus mampu dimunculkan oleh para mahasiswa.

Sebagai kaum intelek bisa saya katakan hal mudah untuk memunculkan tekad diri. Asalkan ada keinginan dan kemauan. Salah satunya ialah meneladani jejak Nabi Sulaiman. Yakni: mahasiswa harus proaktif mengembangkan kapasitas diri.

Kampus menjadi hamparan lautan ilmu yang terbentang luas. Saat mahasiswa mampu menjadi sosok yang proaktif maka bisa dipastikan akan begitu banyak ilmu yang didapat. Mahasiswa tidak cukup hanya berpuas diri dengan ilmu pengetahuan yang didapat dari Dosen saat memberikan penjelasan diruang kuliah semata.

Tapi mahasiswa harus menjadi Pengembara ilmu yang tak kenal lelah. Seperti para pendekar saat mengembara yang mendatangi seluruh pelosok negeri. Bagitulah seharunya mahasiswa proaktif dalam mengais ilmu.

Menjadi aktivis mahsiswa tak ubahnya menjadi Pengembara ilmu. Ini adalah bentuk langkah konkrit mahasiswa menjadi proaktif dalam mewujudkan obsesi kepemimpinannya. Pengalaman yang saya rasakan sendiri dari menjadi aktivis mahasiswa ialah semangat dan tekad lebih selalu hadir dalam mendapatkan ilmu yang seluas-luasnya.

Hampir setiap tempat yang saya temui adalah tempat mendapatkan ilmu, setiap aktivitas yang saya jalankan adalah kegiatan belajar dan setiap orang yang saya temui selalu saja menjadi guru. Dari sinilah secara perlahan obsesi kepemimpinan saya tumbuh dan berkembang. Memang untuk mencapai puncak tergalinya bakat kepemimpinan kita dengan optimal dibutuhkan tekad berupa konsistensi dan komitmen yang tak pernah putus didalamnya.

1 komentar:

  1. ckckkc..
    sipsip.
    tapi afwan kak, teman bukan temen..
    Indonesia bukan indonesia.
    seks bukan sek.

    BalasHapus

Sebelum meng-Klik "Publikasikan" Komentar anda, silakan terlebih dahulu pilih nama ID anda di menu pilihan "Berikan Komentar sebagai"....