Rabu, 13 Juni 2012

Aktivis: Kaum (Elit) Mahasiswa

Oleh. Iqbal Themi 
(Tulisan ini merupakan bagian yang terdapat dalam Naskah calon Buku Ku "Sekolah Negarawan" yang sedang dalam tahapan akhir penulisan)

Menjadi aktivis mahasiswa, sejatinya menjadi kalangan elit mahasiswa. Betapa tidak, kita bisa cross chek kondisi di lapangan berapa banyak jumlah mahasiswa yang mendedikasi dirinya menjadi aktivis mahasiswa pada hari ini. Secara umum bisa dikalkulasikan tidak sampai angka 10 % dari total jumlah mahasiswa yang berada di kampus menjadi aktivis mahasiswa. Terlepas dari apa pun alasan mayoritas mahasiswa enggan untuk menjadi aktivis mahasiswa, yang patut disayangkan ialah keberadaan mahasiswa sebagai pemimpin bangsa masa  depan, sudah sebuah kemestian bagi mahasiswa mematangkan talenta dirinya dengan menjadi aktivis mahasiswa.

Harus disadari menjadi Aktivis Mahasiswa juga menjadi elit  dikalangan mahasiswa setidaknya karena dua faktor yang melatar belakangi. Pertama, faktor kelangkaan dan Kedua, faktor kualitas (Arya Sandhiyuda, 2006). Akibat kedua faktor tersebut pulalah dunia pergerakan mahasiswa menjadi sebuah dunia yang juga elit. Sebagai kaum elit mahasiswa bukan berarti ini menjadi ruang garansi bagi para aktivis mahasiswa untuk menjadi sosok yang jumawa dan besar diri dihadapan para mahasiswa yang lain. Karena istilah elit yang melekat pada aktivis mahasiswa bukanlah sebuah apresiasi atau penghargaan terhadap para mahasiswa yang menjadi aktivis mahasiswa.

Tak ubahnya seperti elit Negarawan yang selalu memberikan karya terbaiknya bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Namun, juga untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas dalam ruang lingkup bangsa dan Negara. Maka, begitupun saat aktivis mahasiswa berkarya, aktivis mahasiswa harus mempersembahkan karyanya dapat diakses atau dirasakan oleh orang sebanyak-banyaknya, bukan untuk kepentingan pribadinya semata. Maka dari sinilah public akan melihat letak elitnya kita menjadi aktivis mahasiswa. Dilain pihak, melalui kiprah politiknya, aktivis mahasiswa dituntut memiliki kapasitas kompetensi diri yang melebihi kapasitas usia yang dimilikinya sendiri. Mulai dari kompetensi sebagai Pemikir, Pemimpin ataupun tatkala harus sebagai Pelaksana.

Sebagai Pemikir, aktivis mahasiswa harus senantiasa kaya dari ide dan gagasan yang segar nan cerdas. Sebagai Pemimpin aktivis mahasiswa harus mampu menunjukan kapasitas dirinya yang memiliki pengaruh dan mampu menggerakan massa, lalu sebagai Pelaksana aktivis mahasiswa mesti senantiasa menunjukan semangat juang yang tinggi dan totalitas saat bekerja. Sehingga, kembali biarlah public yang menilai dan melakukan legitimasi terhadap status elit yang kita sandang.

Terakhir, yang menjadikan aktivis mahasiswa sebagai kalangan elit mahasiswa ialah terletak pada keberanian atau kenekatan untuk menjadi aktivis mahasiswa itu sendiri. Hal ini bisa dibuktikan bagaimana banyaknya mahasiswa yang sudah merasakan pusing karena sedemikian sibuknya saat berhadapan dengan tugas akademik yang menumpuk selangit, belum lagi ditambah dengan masalah pribadi lainnya, seakan membuat para mahasiswa yang demikian itu tak bisa berkutik lagi untuk melakukan kegiatan yang lain. Namun, disisi lain ada mahasiswa yang malah mentekadkan diri memperbanyak lagi aktivitas yang digelutinya dengan menjadi aktivis mahasiswa. Lagi-lagi biarlah hal ini menjadi ruang public untuk melakukan penilaian bagaimana cara para aktivis mahasiswa (elit) mampu menjalankan aneka ragam aktivitasnya secara optimal.

1 komentar:

Sebelum meng-Klik "Publikasikan" Komentar anda, silakan terlebih dahulu pilih nama ID anda di menu pilihan "Berikan Komentar sebagai"....